Berkunjung ke Pulau Penyengat seperti Panggilan Haji?

Berliburan ke Tanjungpinang tak lengkap rasanya bila tak singgah ke Pulau Penyengat. Pulau yang berada di seberang Kota Tanjungpinang.

Di sana menyimpan berbagai macam sejarah dan kini dijadikan destinasi wisata sejarah dan menjadi ikon bersejarah peninggalan kerajaan Riau-Lingga yakni Masjid Raya Sultan Riau.

Pulau penyengat dan bangunan kuning masjid  tampak terlihat jelas dari pinggir laut kota Tanjungpinang.

Penampakan di dalam Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Untuk mencapai Pulau Penyengat tak butuh waktu lama. Kurang lebih 15 menit dengan menggunakan pompong kayu (perahu).

Anda bisa mngaksesnya dari dermaga di sebelah Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, pelabuhan domestik di Kota Tanjungpinang.

Di Pulau Penyengat ada beberapa destinasi wisata. Terutama yang kerap dikunjungi adalah Masjid Raya Sultan Riau. 

Tapi jangan heran, berkunjung ke Pulau Penyengat menjadi pengalaman spiritual bagi sebagian orang. Belum tentu semua penduduk yang berdomisili di Kepulauan Riau pernah singgah ke sana, bahkan sekalipun sudah sering mampir ke Tanjungpinang.

“Bagi saya ke Penyengat itu seperti naik haji, menunggu ada panggilan dahulu, saya datang jauh-jauh dari Jakarta dan menyempatkan diri ke Penyengat, karena saya tahu di sana ada kuburan Raja Ali Haji Fisabillah,” ujar Harun Mahbub, seorang warga Jakarta kepada gurimdan12.com beberapa waktu lalu.

Menurut Rara, warga Batam, ia memutuskan hijrah dari dunia modeling, setelah berkunjung ke Pulau Penyengat. Hingga kini ia berhijan dan meninggalkan dunia penuh glamour tersebut.

“Ada yang menyarangkan ke sana saat saya dalam kebingungan dan memiliki niat baik, setelah niat baik itu tercapai sekembali dari sana, saya memutuskan berhijab,” ujar Rara beberapa waktu lalu.

Raja Ali Haji adalah seorang ulama, pujangga, sekaligus sejarawah yang terkenal dengan mahakaryanya Gurindam 12. Gurindam 12 berisi petuah-petuah bijak. Selain itu ia juga membuat buku pedoman bahas yang kemudian dikukuhkan di Sumpah Pemuda 1928 sebagai tonggak dasar Bahasa Indonesia.

Koleksi Alquran di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Benar saja, beberapa warga di Batam ataupun di Tanjungpinang meskipun sudah tinggal belasan tahun, belum tentu sudah pernah ke sana.

Posisinya sangat gampang diakses. Begitu sampai di Penyengat, di dekat dermaga dan persis di depan gerbang pintu masuk, bangunan kuning itu sudah terlihat. 

Sepintas bangunan tersebut tampak sangat megah dan kokoh dari luar, tembok berwarna kuning dan hijau. Saat tertimpa cahaya matahari akan lebih berkilau. Bahkan dari kejauhan atau dari Kota Tanjungpinang, bisa terlihat dengan jelas. 

Masjid ini pada awalnya di bangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. kemudian pada masa pemerintahan yang dipertuan muda VII Raja Abdurrahman, tahu 1832 masjid ini direnovasi dalam bentuk yang terlibat saat ini. 

Bangunan utama masjid ini berukuran 18×20 meter yang ditopang oleh 4 tiang beton berukuran besar. Di keempat sudut bangunan terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan adzan. Tak hanya itu bangunan masjid ini pun terdapat 13 kubah yang berbentuk seperti bawang. 

Jumlah keseluruhan menara dan kubah di masjid ini sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat solat fardhu lima waktu sehari semalam. Selain itu disisi kiri dan kanan bagian masjid terdapat bangunan tambahan yang di sebut dengan rumah sotoh (tempat pertemuan). 

Noje (Penjaga-red) Masjid Raya Sultan Riau Penyengat Hambali mengatakan, menurut sejarahnya, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat. Katanya, ia tidak mengetahui berapa lama proses pembangunan Masjid ini.

Ia melanjutkan, menurut sejarahnya, dulu warga dari mana-mana bergotong-royong dan menyumbangkan bantuan makanan berupa,  lauk-pauk dan sayur-sayuran untuk pekerja yang membangun masjid, termasuk telur ayam yang jumlahnya banyak.

“Sangking banyaknya mungkin, pekerja hanya memakan telur kuning saja, karena putih telur dibuang kan, arsitek masjid asal India itu, memanfaatkan putih telur sebagai bahan campuran pasir, tanah liat dan kapur,” ujarnya.

Menurut Hambali, hampir semua masyarakat pun mengetahui itu, dan diceritakan secara turun menurun, nah untuk bukti seperti dokumentasi dan lainnya itu tidak mengetahui.

“Istilah orang dulu berbuat tak ada meninggalkan catatan, yang penting berbuat, saya tak tahu,” katanya.

Setiap bangunan masjid ini memiliki arti tersendiri, misalnya lima ruangan didadam masjid itu melambangkan rukun Islam, dan masjid itu terdapat 6 jendela merupakan istilah rukun iman.

“Kalau pintu ada tujuh, kenapa sebanyak tujuh, Allah menciptakan tujuh tingkatan surga dan neraka serta tujuh lapisan langit,” jelasnya.

Ia menjelaskan, didalam masjid terdapat peninggalan sejarah seperti Al-Qur’an tulisan tangan oleh Abdurrahman Stambul, putera Riau asli pulau Penyengat yang diutus oleh Sultan untuk belajar di Mesir pada tahun 1867.

“Karena setelah pulang Mesir, Ia menjadi guru ngaji, karena banyak waktu ia menulis Al-Qur’an,” kata Hambali.

Sementara mimbar di dalam mesjid itu terbuat dari kayu jati ukiran Jepara, di dalam masjid juga terdapat lampu kristal yang memperindah isi ruangan, katanya, lampu kristal itu berasal dari hadiah dari Kerajaan Prusia (Jerman) pada tahun 1860-an. 

“Kalau dua unit lembari tempat penyimpanan kitab, dan kotak impaq itu berangkas peninggalan,”ujar Hambali.

Menurut ia ada kesalahpahaman masyarakat mengenai sejarah masjid ini, karena masih ada masyarakat yang beranggapan warna kuning masjid ini terbuat dari kuning telur.

“Padahal kan putih telur, yang dicampur kan dengan, kapur, pasir dan tanah liat, masih ada juga masyarakat yang mis komunikasi,” ujar Hambali.

Afd – Kontributor Tanjungpinang

Leave a Reply